Return to site

Keindahan Sepak Bola

Semifinal Liga Champions pertengahan pekan lalu menyajikan sebuah sepak bola yang indah dan enak untuk ditonton. Empat tim juara, Real Madrid, Barcelona, Bayern Muenchen, dan Juventus saling berebut dua tempat di final, 6 Juni di Stadion Olimpiade Berlin.
 
Pada pertandingan pertama Barcelona menundukkan Bayern Muenchen 3-0 di kandang. Sementara di Torino, Juventus menaklukkan juara bertahan Real Madrid 2-1.
 
Dengan hasil itulah pertandingan kedua menjadi lebih menarik. Bayern harus mengalahkan Barcelona dengan selisih empat gol untuk membalikkan keadaan. Sementara Real Madrid cukup menang 1-0 di Stadion Santiago Bernabeu.

Bayern yang tampil dengan begitu agresif akhirnya hanya bisa memang 3-2 dari Barcelona. Kemenangan itu tidak cukup untuk menutupi defisit tiga gol di pertandingan dan anak asuh Josep Guardiola harus mengubur mimpi tampil di depan pendukung Jerman di Berlin.
 
Nasib nahas juga harus dialami Rea Madrid. Anak asuh Carlo Ancellotti harus melepas Piala Champions dan menutup musim tanpa gelar setelah hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan "Nyonya Tua" Juventus.
 
Kekalahan sudah pasti membawa kesedihan, sementara kemenangan memberi kegembiraan. Tetapi itulah permainan sepak bola, selalu harus ada yang kalah dan ada yang menang. Kekalahan tidak harus disesali, karena tahun depan ada kesempatan untuk meraih kemenangan.

Kita pantas kagum melihat kompetisi sepak bola yang digelar di Eropa karena menyajikan pertandingan yang bermutu. Kekuatan masing-masing tim tidak berbeda jauh, tinggal siapa yang lebih pintar untuk melihat kelemahan lawan.
 
Barcelona yang menjadi favorit juara musim ini bukanlah tim yang tidak bisa dikalahkan. Bayern Muenchen menunjukkan dirinya sebagai klub besar dan mampu untuk menaklukkan klub dari Spanyol itu.
 
Di Stadion Allianz memang Phillip Lahm dan kawan-kawan menunjukkan kualitas kesebelasan Jerman yang mampu bangkit dari kekalahan. Mereka tampil luar biasa untuk bisa membalas kekalahan di Camp Nou.
 
Namun Barcelona merupakan tim yang tidak mudah dikalahkan. Apalagi mereka memiliki trio Lionel Messi-Luis Suarez-Neymar yang begitu menakutkan. Meski Bayern bisa mencetak tiga gol ke kandang Barcelona, namun mereka mampu membalas dengan dua gol untuk unggul 5-3 secara aggregat.

Di Stadion Bernabeu pertandingan juga tidak kalah dramatis. Real Madrid habis-habisan untuk membalas kekalahannya di Torino. Apalagi di kandang mereka didukung oleh penonton yang begitu fanatik.
 
Namun Juventus menunjukkan kelasnya sebagai tim yang matang. Mereka mampu tampil tenang untuk meredam penampilan agresif tuan rumah. Mereka mampu mencuri gol untuk memaksa pertandingan berakhir imbang 1-1 dan itu cukup untuk membawa mereka unggul 3-2 secara aggregat.
 
Di luar pertandingan yang begitu dramatis, satu yang pantas membuat kita kagum adalah sikap sportif dari para pemain. Selama 90 menit mereka berjibaku, tetapi begitu pertandingan berakhir yang kalah menghormati yang menang, begitu sebaliknya.
 
Indahnya Sepak Bola
 
Keindahan sepak bola tidak hanya terletak pada permainannya, tetapi juga dari sikap para pemain dan pelatihnya. Tidak pernah ada kebencian, meski mereka berupaya untuk saling mengalahkan.
 
Sepak bola dan olahraga pada umumnya memang harus jauh dari kebencian. Ini adalah permainan yang mengutamakan sportivitas dan sikap ksatria untuk mengakui bahwa lawan lebih baik dari kita.
 
Tidak pernah ada iri hati juga dalam sepak bola. Apabila kita ingin lebih baik dari lawan, maka tidak ada jalan lain kecuali kita mau berlatih lebih keras dari tim-tim saingan.
 
Tidak pernah juga ada jalan pintas untuk menjadi yang terbaik. Hanya kerja keras dan kemauan keras untuk menjadi yang terbaik, itulah yang menjadi kunci keberhasilan sebuah tim.
 
Inilah yang kitaa tidak dapatkan pada sepak bola Indonesia. Kita hanya melihat dari sekadar menang dan kalah saja. Semua itu juga dipenuhi dengan rasa kebencian.
 
Lihatlah bagaimana Menpora dan PSSI menyelesaikan perbedaan di antara. Tidak ada upaya untuk saling bertemu dan sama-sama memecahkan masalah. Yang lebih menonjol adalah kebencian. Seakan-akan kebenaran hanya ada pada dirinya, sementaara orang lain selalu salah.
 
Sepanjang sikap ksatria jauh pada diri para pengelola olahraga, jangan harap sepak bola dan olahraga kita akan maju. Sungguh ironis bangsa yang dibangun dengan kebersamaan, justru kini hidup dalam perbedaan. Klik juga di sini Tim Transisi dan Sanksi FIFA.

All Posts
×

Almost done…

We just sent you an email. Please click the link in the email to confirm your subscription!

OKSubscriptions powered by Strikingly